09 June 2013

Kamu Hebat


Dulu, kamu pernah membuatnya marangkum keindahan jagat raya pada sebuah tatapan mata. Dengan hati yang sederhana, kamu membuatnya jatuh cinta.

Di sekitarnya, gemerlap lampu berpendar silaukan matanya Tetapi, hanya cahayamu yang bisa jadi sesuatu di tepi sunyi malam yang menyakiti. Ya, dia mencintaimu. Dulu.

Tetapi, entah harus disesali atau tidak, saat itu kamu terpenjara di tengah kabut kenangan. Gigilmu membuat layu. Kau lunglai dan tak ingin dikunjungi sesiapa. Bahkan, geliat dia di ladang yang mulai hijau tak kau lirik sama sekali. Kau letih dan enggan memulai langkah. Kenangan telah jadikanmu babu yang diperbudak oleh rasa pahit.

Lalu, kedatangannya membuatmu tersentak. Ingin memulai sesuatu yang tak pernah bisa kau mulai. Ingin berkata sesuatu yang tak pernah terbahasakan. Di satu sisimu, kamu ingin dia.

Tapi terlambat. Kamu benar-benar terlambat. Sekelompok prajurit menggiringnya untuk berlayar ke hati yang lain. Hati yang diam-diam sembunyi di balik ilalang, dan selalu sigap menyergapnya.

Ya. Dia butuh hati. Dia haus hati. Dia tersiksa dalam harapan kesendirian. Dan hatimu terlambat disajikan.
Dia tak sempat menunggumu bangun dari pelarungan.

Tapi, kamu hebat. Dadamu savana yang dikelilingi rimbun hutan tak terjamah.
Kamu bukan orang payah. Kamu hanya teralu berhati-hati dalam memilih hati, dan kamu bukan si pengambil kesempatan dalam kesempitan seperti orang-orang. Kamu setia dengan hatimu dan kehendaknya. Terlalu setia dan jujur.

Kupikir, ini memang jalan terbaik bagimu. Tak dipilih, karena hatimu memang bukan untuk dipilih. Kamulah yang sebenarnya telah memilih.

Kamu hebat. Kamu ingat bagaimana tegarmu hadapi seringai dan tawa mulut-mulut sobek itu? Kamu ingat bagaimana mereka mengataimu sebagai si kalah, sedang kamu tak pernah merasa bertanding apapun.
Biarkan mereka berpuas. Biarkan kepala mereka meledak karena keinginan-keingan untuk buatmu luka. Biarkan mereka mengabsurd dalam jumawa.

Kamu lurus melangkah lanjutkan kisah.

Berbanggalah dengan hebatmu. Dan lihat, betapa hatimu terlalu berharga jika dipersembahkan pada hati yang mudah berpaling dalam sekejap mata.
 

— at Starbucks Central Park.

No comments:

Post a Comment