15 June 2013

Sang Pelindung



Sejak awal, aku memang telah ditakdirkan untuk melindungimu, 
tetapi bukan untuk melindungi hatimu.

Ada euforia saat kali pertama aku bertemu dengan kamu. Orang lain juga pernah merasakannya. Di situlah rasa bahagia, haru, dan rasa lain yang identik dengan keindahan bermuara. Karena rasa itu, aku merasa terlahir kembali.
Semua rasa itu semakin melangit saat kembara matamu berakhir padaku. Lalu, langit pun terasa semakin kromatis saat pilihan kamu jatuhkan kepadaku. Kurasakan euforia yang tak berkesudahan.
Sejak hari itu, aku jadi satu-satunya hal yang paling dekat denganmu. Duniamu mendadak dibagi denganku. Isi kepala kita berfusi. Sejak hari itu, apa yang kamu lihat bisa kulihat juga.
Aku menjadi satu-satunya pelindung yang bisa kau andalkan. Kadang, di tengah perjalanan melintasi bising kota, kamu selalu bercerita tentang apa saja. Kadang tentang masa lalumu, tentang bagaimana kamu jatuh hati pada sepeda motor yang setiap hari kita kendarai bersama, bahkan tentang gelisahmu saat ikan-ikan di akuariummu mati.
Tetapi, dari semua cerita yang mengalir lirih dari mulutmu dalam setiap perjalanan kita, yang paling membuatku tersentuh adalah kisah tentang cintamu pada seseorang. Seseorang yang kamu cintai sedalam-dalamnya, sepenuh-penuhnya, sehebat-hebatnya, tetapi kamu tidak pernah bisa mengungkapkannya.
Jujur, aku cemburu pada orang yang kamu maksud itu. Kamu sangat mencintainya, walaupun kamu bergeming dalam kepura-puraan. Kadang, aku ingin egois. Aku pelindungmu yang selalu menyayangi kamu, maka akulah yang seharusnya kamu cintai. Tetapi, tak ada yang bisa memaksakan kehendak hati orang lain. Aku sama sekali tak punya energi untuk menyulap hatimu agar berbalik mencintaiku.
Sampailah kebersamaanku denganmu di kilometer ke 2211. Di siang yang garang, pedih cinta datang menyerang, dan hatimu meradang. Orang yang selama ini kamu cintai habis-habisan masuk rumah sakit dalam keadaan koma. Malam sebelumnya, kamu memaki-makinya karena pekerjaannya beberapa minggu belakangan ini tidak tuntas. Sebagai supervisor, kamu pandai menyembunyikan rasa cinta mendalammu untuknya. Maka, dengan pikiran profesional, kamu memang sudah sewajarnya melakukan itu.
Sayangnya, dia tak setangguh kamu menghadapi badai rasa hati. Apalagi saat orang yang dicintainya membantai hatinya dengan caci-maki karena alasan pekerjaan. Dia limbung, sampai-sampai lengah saat menyeberang jalan. Sebuah bus yang ugal-ugalan tanpa belas kasihan menabraknya hingga tersungkur berdarah-darah di tengah jalan. Beruntung umurnya bisa diperpanjang, walau kini dia tak sadar sedang berada di pembaringan.
Aku tahu, kamu menyesal. Apalagi setelah dari buku hariannya kamu tahu bahwa akhir-akhir ini pikirannya sedang gusar karena dia mencintaimu. Sama dahsyatnya dengan rasa cintamu padanya. Huh, kamu dan dia membuatku bingung. Saling mencintai, tetapi tidak pernah ada titik temu. 
Kamu menangis sepanjang jalan. Motor yang kita kendarai melaju tak tentu arah. Setiap orang yang sedang menyeberang, selalu kamu visualisasikan sebagai pujaan hatimu. Hatimu hancur, berdarah-darah, dan aku tak sanggup melindunginya. Ya, seharusnya aku bisa melindungi hatimu seperti aku melindungi kepalamu siang itu.
Di kilometer 2211 pada speedometer motormu, kamu menghindari seseorang yang sedang menyeberang. Karena itu, motor kita menabrak separator busway. Kamu dan aku terpental beberapa meter. Kamu beruntung, ada aku yang melindungi kepalamu, walaupun kini ragaku nyaris terbelah dua.
Dalam hitungan hari, kamu pulih, tetapi hatimu tidak. Orang yang kamu cintai telah pergi untuk selamanya. Hatimu berlubang. Aku berhasil melindungi kepalamu, tetapi tidak bisa melindungi rapuh hatimu.
Tapi, tenang saja. Time will heal. Kini, kepalamu dilindungi oleh helm lain penggantiku. Kupikir, kamu akan membuangku. Ternyata tidak. Di sebuah meja di kamarmu, aku kamu simpan baik-baik setelah dibersihkan.
Baiklah, ini kuanggap bentuk pengungkapan bahwa kamu juga mencintaiku, sang pelindungmu.


Jakarta, 15 Juni 2013

No comments:

Post a Comment