02 June 2013

Ini Jakarta

Ini Jakarta. Semangkuk puisi yang diberi metafor kaya rasa dan serpih harap di setiap gelagat laju kala. Orang-orang banyak mendewakan, tapi tak sedikit yang berserapah walau memilih untuk tetap tinggal memijak tanahnya.
Langit terkadang murung. Tapi, bingar selalu jadi berita segar setiap lembaran detik dibuka.
Saat surya jadi raja, pecahlah kepala orang-orang. Sesekali, amarah meruah mengantar ode bagi hewan-hewan kepada kuping pekak yang telah kebal karena bising.
Lalu, hujan jadi rintikan cinta yang selalu siaga menjelma kematian. Cinta dan kematian, tak sejalan tetapi selalu berdampingan. Pula dengan kelahiran yang sesekali jadi hantu.
Kicau burung masih ada, tersangkut pada celah pepohon di rindang taman kota.
Di suatu tempat, angin laut menyergap melewati pantai-pantai. Dia tak pernah singgah jadi sejarah. Hanya lewat, lalu pergi menyisir pasir di bibir senja.
Di trotoar nyaris tak ada jeda untuk bernapas puas, walau udara tak habis dihirup manusia yang mangap-mangap sambil mendaki gedung bertangga sejuta.

Ini Jakarta. Di sebuah kotak, aku menari sendirian. Dikurung malam, dilindungi dahsyat doa bunda di tanah lahir.

Ini Jakarta, dan baru sejengkal kujelajahi hamparan rumputnya yang selalu berganti warna.

#terpaksa disudahi karena harus segera beranjak


Sevel Hayam Wuruk
2 Juni 2013
2.49 AM

No comments:

Post a Comment