29 September 2015

Hebatmu Sejauh Ini

Kamu sudah sejauh ini, di tempat ini. Bertahan dalam badai rasa sakit yang tak pernah henti. Kamu hebat karena bisa bertahan.
Bertahan dengan gelagat orang yang meremehkan. Bertahan dengan tingkah laku yang membuat geram. Bertahan dengan kecurangan yang tak berkesudahan. Bertahan dengan ledek tawa orang-orang yang buta akan ketulusan.

Kamu hebat. Sejauh ini masih bisa bertahan.

Bertahan dengan pendar cinta yang tak dipedulikan. Bertahan dengan kebohongan dalam pertemanan. Bertahan dengan sorot mata elang yang selalu melihatmu sebagai katak di hampar lumpur terserak.

Kamu telah bertahan sejauh ini.

Bertahan dengan jumawa orang-orang yang selalu merasa jadi pemenang. Bertahan dengan orang-orang yang pernah jatuh hati padamu secara picik, sehingga mereka tenggelam dalam kecewa dan menyalahkanmu.
Pula, kamu bertahan dengan orang-orang yang selalu gerah saat kamu bisa melompat lebih tinggi.


Kamu hebat. Tapi, sudahilah.
Terlalu lama kamu berkorban mendekam dalam kandang berduri. Sedang tak satupun peduli pada tiap tetes darah di telapak kaki dan sekujur tubuhmu.
Terlalu lama kamu bersahabat dengan para pengkhianat, yang tak sadar sedang berkhianat.
Terlalu lama kamu membuka hati pada orang-orang yang tak punya hati.

Kamu terlalu hebat karena selalu bisa memaafkan.

Kamu terlalu banyak melihat kemunafikan.
Ketika sembahyang dan puasa dilakukan oleh orang-orang berhati kecut dan berjiwa serakah.
Ketika kalimat-kalimat bijak tentang rumah tangga dan cinta memburai dari mulut tukang selingkuh.
Ketika persahabatan hanya membahana di genggaman layar telepon pintar.
Ketika teman-teman yang kau cintai sepenuhnya diam-diam meninggalkanmu, dan tak pernah mengakui eksistensi persahabatan kalian.

Dulu, bahagiamu kamu bagikan cuma-cuma kepada mereka. Lalu, mereka pergi dengan jumawa bahagia, dan tak akan pernah sudi membagi bahagia itu denganmu.

Sudahlah, pikiranmu lelah.

Tapi hebatmu sejauh ini bukan sekadar pembuktian bahwa kamu bersyukur, tapi jadi sepenggal cara bahwa kamu selalu berkompromi dan repot memanipulasi pikiran sendiri.
"agar semua seimbang," pikirmu.

Hebatmu sejauh ini, selalu berusaha membuat orang lain berbahagia.

Walau tanpa kau sadari, ada bom waktu yang siap meledak tanpa kompromi.

No comments:

Post a Comment