03 September 2015

Post Number One Syndrome

Post Number One Syndrom. Istilah rekaan saya sendiri. Mengacu pada seseorang yang merasa dirinya adalah nomor satu di suatu komunitas tertentu, dan selalu merasa nomor satu sehingga melakukan hal-hal yang membuatnya terindikasi arogan dan menganggap orang lain tidak lebih baik dari dirinya.

Ada sekelompok orang yang terdiri atas berbagai keahlian dan kemampuan. Orang-orang itu dikumpulkan dalam satu media pendidikan. Lalu, salah satu di antara mereka menonjol dalam segi akademis. Dia adalah figur yang menyenangkan, humble, dan mau berbagi. Maka, dia pun terkenal di kalangan teman-temannya selama masa pendidikan. Dialah si 'Number One'.

Waktu berlalu. Berakhirlah masa pendidikan itu. Lantas, mereka menyebar di tempat kerja berbeda sesuai dengan kompetensi masing-masing. Di sanalah mereka mulai mengaplikasikan ilmu yang selama ini dipelajari selama masa pendidikan.

Seiring dengan pergantian waktu, mereka berhasil meningkatkan kemampuan mereka. Mereka belajar dari pengalaman kerja sehari-hari. Sementara, si 'Number One' bersetia dengan kepintarannya yang dulu. Dia juga bersetia pada perasaan bahwa dirinya masih nomor satu seperti dulu. Dia mengabaikan capaian-capaian kawan-kawannya. Ternyata, diam-diam dia memelihara perasaan yang menyatakan bahwa teman-temannya nothing. Tetapi, dalam pertemuan-pertemuan singkat dengan teman-temannya, dia selalu berpura-pura mengapresiasi. Wajahnya bersahabat, tapi hatinya getir berbicara, "gini doang?"

Hingga suatu hari, takdir mempertemukan mereka kembali melalui sebuah fasilitas group di social media, sekitar 5 tahun setelah kali terakhir mereka berjumpa. Dengan rasa percaya diri yang penuh, dia masih merasa dirinya Tuan Nomor Satu. Dia abai bahwa dalam lima tahun begitu banyak hal terjadi, begitu banyak hal yang bisa berubah. Dia lupa belajar, dan menganggap teman-temannya tidak akan belajar juga.

Lalu, dalam percakapan cyber-nya dengan teman-teman, dia selalu berusaha keras untuk mempertahankan kenomorsatuannya. Saat ada teman lain yang terlihat memiliki sesuatu yang lebih darinya, dia akan terus menonjolkan dirinya dengan terus membicarakan kejayaan masa lalu. Arogansinya memuncak tinggi. Baginya teman-teman yang lain tidak pantas menggapai bintang yang tinggi.

Dia istimewa, dia pernah jadi nomor satu. Tapi,dia lupa memperkaya diri. Dia lupa bahwa kawan-kawannya terus berlari. Entah lupa atau tak peduli.

No comments:

Post a Comment