06 June 2015

Pohon Mangga yang Sangat Mencintaimu #nulisrandom2015

Dulu aku adalah biji mangga yang kau buang di jalanan aspal setelah dagingnya tandas dinikmati. Walau ada kesempatanmu untuk menjadikanku pohon mangga baru, tak sedikitpun inginmu untuk melakukan itu. Waktu bergulir, aku ditemukan oleh seseorang yang mau merawatku. Dia memungutku, lalu menanam tubuhku di pekarangan rumahnya. Bahagia rasanya ketika aku kembali mendapat lagi kesempatan berbagi buahku dengan orang lain. 
Karena dirawat olehnya, aku tumbuh jadi tunas. Tak peduli seperti apa rupaku kini atau kelak. Dia merawatku dengan kudus kasih tak berbatas.

Setelah selama ini dia merawatku, aku tumbuh jadi pohon mangga di dalam pot. Aku tumbuh subur walau tak menjulang tinggi dengan bunga-bunga yang mulai mekar setiap hari. Dia terus menjagaku. Kami sama-sama menanam ingatan tentang cinta. Tak ada manusia lain yang ingin kudampingi selain dia.  Ah, ingin rasanya aku berubah jadi manusia. Agar aku bisa mencintai dia secara nyata. Tetapi, leluhurku pernah berkata-kata bahwa buah mangga dan keteduhan dapat menjadi cinta yang nyata dari pohon mangga bagi manusia yang kami cintai.

Hingga tibalah waktunya aku ditumbuhi buah-buah yang ranum dan harum. Dia terlihat bahagia. Raut bahagia itu ciptakan pula bahagia di hatiku. Lalu, buahku yang manis dan lezat dinikmatinya. Tak lupa dibaginya kenikmatan ilahi ini kepada beberapa tetangga dekatnya.

Tiba-tiba kamu datang. Kamu tergoda melihat aku yang telah tumbuh menjadi pohon. Tiba-tiba kamu ingat kenangan-kenangan kita yang dulu. Kamu ingat bagaimana bibirmu menciumi daging buahku, lalu kamu gigit sampai habis bersisa biji. Kamu juga ingat bagaimana pesona kenikmatanku tak bisa kamu sudahi. Kamu jilat-jilat aku yang tinggal biji. Kamu mengenyotku aku sampai kering dan jadi sampah. Kamu terbuai kenangan masa lalu tentang kenikmatan yang tercipta karenaku. Celaka, kini kamu ingin memiliki aku. 

Diam-diam, kamu berencana mencuri aku dari dia. Kamu inginkan aku kembali. Astaga. Tidak bisa! Kini aku sepenuhnya dimiliki dia, bukan kamu. Salah sendiri dulu kamu membuangku dan membuat aku merasa jadi benda tak berharga. Tak peduli kamu memohon-mohon, aku tak sudi jadi milikmu. 

Suatu malam, saat dia lelap di atas dipannya, kamu benar-benar mencoba untuk mencuriku. Tidak bisa! Tak akan kubiarkan kamu mencuri aku. Tak akan kubiarkan kamu memisahkan aku dengan dia. Jika kamu berani menghalalkan segala cara. Aku juga bisa.
Lihatlah, kini kedua tangan kotormu berani menjamahku. Kamu meraba-raba buahku yang bergelantungan. Ilermu membanjir. Tanpa sempat kau susut mulutmu yang basah, berani-beraninya kini kau memegang pot tempat tinggalku. Kamu angkat, lalu kamu mengendap-endap menuju pagar depan. Sialan. Sambil berjalan, sempat-sempatnya kamu menyetubuhiku. Kamu mendekapku sepenuh napsu. Kamu juga terus menciumi buahku dan sesekali menjilati kulit buahku yang bergetah. Jijik.

Tapi, kamu tersandung batu. Kamu terjatuh, begitu juga aku. Kamu membuatku terancam mati. Potku pecah. Tubuhku tergolek di atas tanah dengan akar yang nongol ke mana-mana. Kurang ajar. Setelah dulu kamu mencampakan aku, kini kamu mencoba merenggut kebahagiaanku. Keparat kamu. Ini tak bisa kubiarkan! Tapi aku bisa apa? Aku hanya sebatang pohon mangga kerdil yang tumbuh di dalam pot. Aku tak bisa menjerit minta tolong. Aku juga tak bisa mencakar-cakar wajahmu yang songong.

Aku berpasrah. Berusaha menerima takdir. Mungkin nanti aku akan terlahir kembali di tempat lain dari biji-biji buahku yang dibagikan pada tetangganya. Aku rela. Aku berhening, berusaha memutar kembali kenangan indahku dengan dia, sejak aku tunas hingga bisa berbuah seperti sekarang.

Lalu, entah anugerah apa lagi yang aku dapatkan. Aku berubah jadi manusia. Telanjang dan berlumur tanah. Kamu kaget, lalu lari tunggang-langgang. Aku masih takjub pada tubuhku sendiri. Lalu, aku memanggil-manggil dia yang kini masih lelap. Ternyata dia terbangun karena kegaduhan yang kau buat.
Dia kaget melihatku, lalu bertanya, "siapa kamu?" dengan pandangan yang masih saja penuh cinta.
Aku pohon manggamu. Pohon mangga yang sangat mencintaimu.

No comments:

Post a Comment