09 November 2008

Cuplikan “Divan dan Hujan” - Novel Ighiw



(sumber foto: mudabentara.files.wordpress.com)


......
“Tadi itu nggak seperti apa yang kamu lihat ,Van!”
“BERISIK! Aku nggak peduli yang aku lihat tadi bener atau nggak. Yang jelas aku muak sama kamu, sama Mita, sama cinta, sama segala hal yang berhubungan dengan itu! Aku nggak mau lihat kamu dan Mita lagi!!!!!!!”
“VAN! Denger aku sekali aja! Aku deketin Mita tuh buat kamu aku pengen nyomblangin kalian. Masalah Mita yang suka sama aku, itu bukan kehendak aku. Itu di luar batas inginku, Van! Kamu harus ngerti posisiku!”
Divan tercengang pada penjelasan Yudi. Ingin rasanya dia mendengar kembali penjelasan Yudi agar dia masih bisa mempertahankan pijaran persahabatannya untuk Yudi. Divan gamang. Dia bingung harus berbuat apa. Dia tidak tahu apakah harus percaya pada Yudi atau pada isyarat curiga yang tertanam di hatinya. Tapi belum sempat dia mendapatkan jawaban itu, tiba-tiba dia terpeleset. Kepalanya membentur batu. Tubuhnya berguling di sepanjang tebing lalu tercebur ke dalam aliran sungai.
“AAAAAAAAHHHH!”
“ASTAGHFIRULLAH! DIVAN! VAAAAAAAN!”
Yudi berlari ke arah sungai. Tapi tanah sangat licin. Yudi pun terpeleset dan ikut tercebur ke dalam sungai.
Sungai memang tidak terlalu dalam. Tetapi, Divan dan Yudi tidak mampu menahan deras arusnya. Tubuh mereka berkali-kali membentur batu-batu di sungai itu.
“HAH! HAH! TOLOONG!” Divan berteriak-teriak meminta bantuan.
Kini Divan berada di batas kesadaran. Tak ada yang dia lihat selain cahaya kunang-kunang yang mengeliliginya. Tiba-tiba dia melihat Yudi. Yudi ada bersamanya! Yudi merangkul tubuhnya. Dia menggiringnya untuk keluar dari deras air. Mulutnya seakan terkunci. Keram di sekujur tubuhnya. Dia tidak berdaya. Dia pasrah. Tubuhnya lunglai di pangkuan Yudi.

***

Perlahan Divan membuka mata. Dia terbaring di sebuah batu besar yang ada di tengah deras aliran sungai. Dia masih tidak berdaya. Lemas meraja di sekujur tubuhnya. Beberapa meter di dekatnya Yudi terjepit di sela-sela batang pohon yang tumbang. Tubuh itu diombang-ambingkan oleh arus sungai. Tangan Divan berusaha untuk menggapai-gapai tubuh Yudi. Tapi tidak sampai. Bahkan Divan tidak sanggup mengangkat tangannya. Seluruh tulangnya terasa beku. Tak bisa digerakkan.
“Yud, Yudi,” panggilnya dengan suara parau. Suaranya tergilas oleh suara gemuruh air. Ternyata beberapa meter dari situ terdapat air terjun. Melihat keadaan itu Divan berusaha keras untuk membangunkan Yudi. Dia menggapai-gapai batu kecil yang ada di dekatnya. Dia mencoba melempar batu itu ke arah Yudi. Tapi dia tidak mampu mengangkat tangannya.
“Yud, Yudi!”
Divan putus asa. Dia hanya bisa menangis.
“Tolong! Tolong!” Divan berusaha meminta tolong, tapi sayang suaranya tidak terdengar oleh siapapun, bahkan oleh teman-temannya yang sebetulnya ada di sekitar situ.
“Yudi bangun! Bangun!” Divan menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba tubuh Yudi mulai menunjukkan reaksi. Mata Yudi perlahan terbuka. Yudi terbangun.
“Van? Kamu nggak apa-apa?”
“Yud, sakit neehhh...,” Divan merengek seperti anak kecil.
Yudi terkejut melihat tubuh Divan dihinggapi banyak luka dan dilumuri darah. Dia semakin terkejut setelah menyadari bahwa tubuhnya pun dihinggapi banyak luka, bahkan lebih parah dari Divan. Yudi mencoba untuk melepaskan diri dari jepitan pohon. Tapi dia tidak sanggup. Setelah berkali-kali mencoba akhirnya Yudi menyerah. Kini dia pasrah menunggu bantuan datang.
Di tengah kepasrahannya itu Yudi mencoba berbicara pada Divan. Mendadak suara gemuruh air sirna.
“Van, aku nggak mungkin nyakitin kamu. Aku nggak mungkin tergoda sama Mita.”
Divan menangis. Dia mencoba untuk mengangguk. Setangkup penyesalan membebani batinnya.
“Ya, aku tau Yud, seandainya aku sadar lebih awal, mungkin kita nggak bakal kayak gini,” ujar Divan penuh penyesalan.
“Yud, aku pengen semua ini berakhir, aku pengen cepet-cepet masuk sekolah lagi. Aku janji, aku nggak bakalan pindah tempat duduk. Nanti kita pulang bareng, kita juga bisa ngeceng bareng, sama Andry, Beni, Riyan, sama semuanya Yud! Kita bakal pulang bareng lagi kan jalan ke Pasteur, atau kalau perlu kita jalan aja sampai rumah.”
Yudi mengangguk. Dia tertawa geli karena kepolosan Divan. Ada cahaya dalam kilas senyumnya. Dia menggigiti bibirnya karena kedinginan.
“Berdoa aja Van, berdoa agar Tuhan ngasih jalan yang terbaik buat kita. Apapun yang terjadi itu adalah yang terbaik buat kita. Itu adalah pertanda keberadaan cinta-Nya, cinta hakiki yang selama ini kita cari, Van.”
“Yud, jangan ngomongin cinta terus, aku pusing.”
Yudi tertawa kecil.
“Divan, Divan. Van, aku ngerasa beruntung banget punya sahabat kayak kamu. Tanpa kamu kayaknya hidupku di SMU Maju Terus bakalan garing tau!”
“Aku juga Yud, ya, walaupun kamu sering minjem duit, he he he.” Divan tertawa kecil. Beberapa saat suasana sunyi.
“Van, jujur aja, buat aku kamu tuh pengganti adikku yang udah meninggal, Van. Jadi, kamu harus tahu bahwa aku nggak mungkin ngerampas kebahagiaan kamu. Van, kamu harus janji. Kamu jangan pernah putus asa. Kamu harus percaya kalau Tuhan Maha Adil!”
“Ya, makasih Yud.”
Tiba-tiba Yudi batuk-batuk. Dari mulutnya menyembur darah. Yudi batuk darah!
“Yud, kamu kenapa?”
“Nggak apa-a….”
Mendadak pohon yang menjepit Yudi bergerak. Yudi benar-benar kaget. Tak lama pohon itu terhempas oleh arus sungai. Yudi yang terjepit pohon itu ikut terbawa arus menuju air terjun! Suara gemuruh air bah kembali meraja. Kali ini gemuruh yang mencekam.
“Yud! YUDI!!!!”
Tak ada jawaban dari Yudi. Bahkan, sampai pohon itu jatuh di air terjun.
“YUDI! TOLOOONG! YA ALLAH SELAMATKAN YUDI! YUDI!!!!” Divan menjerit histeris, tapi tidak ada yang mendengar. Dia ingin menolong Yudi, tapi tubuhnya terkunci. Perlahan gemuruh sungai mereda. Divan kelelahan, lanskap langit yang membentang di pelupuk matanya mengabur. Samar dia mendengar jerit tangis dan suara langkah orang-orang. Entah siapa dan apa yang sedang mereka lakukan. Ada suara jerit histeris yang tidak asing baginya, suara Sinta. Suara itu perlahan menghilang. Kini dia hanya bisa melihat hamparan pemandangan yang serba putih. Sunyi, senyap, dan hening.
***

2 comments: