22 November 2008

Penyegaran Antusiasme Terhadap Sastra

oleh Sigit Rais


(sumber gambar: http://www.archaeologyonline.net/indology/sastra-reading.jpg)


Ada kekosongan penelitian tentang pembelajaran transformasi cerita rakyat ke dalam sastra modern di sekolah. Sepertinya hal itulah yang hendak disampaikan oleh Pak Sumiyadi (dosen pembimbing skripsi saya) dalam tulisannya yang berjudul “Cerita Rakyat dan Masalah Pembelajarannya” pada lembar Khazanah, Pikiran Rakyat 12 Maret 2005 beberapa tahun yang lalu. Penempatan cerita rakyat ke dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah memang dilematis. Di satu sisi, cerita rakyat sebagai sastra daerah adalah bagian yang juga harus diperkenalkan pada siswa dalam rangka mengenal khazanah sastra Indonesia. Dalam hal ini, tranformasi bahasa dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia sebagai penasionalisasian sastra daerah sangat perlu digiatkan, mengingat hanya sedikit sastra daerah yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di sisi lain, kemunculan sastra-sastra modern yang berintertekstual dengan cerita rakyat, memang membantu memublikasikan sastra daerah yang selama ini “bersembunyi”. Akan tetapi, berbagai modifikasi yang ada di dalamnya, baik berupa watak tokoh, akhir cerita, dan aspek lainnya bisa membingungkan siswa karena tidak sesuai dengan cerita aslinya (tidak bertransformasi secara normatif). Mungkin yang dapat dijadikan contoh adalah cerita pendek “Malin Kundang 2000”. Perbedaan ending antara cerpen ini dengan cerita aslinya dapat membingungkan siswa yang belum diberikan pemahaman tentang intertekstual, hipogram, dan berbagai istilah lain yang berkaitan dengan transfomasi teks.
Seperti yang dikemukakan oleh Pak Sumiyadi, dalam menyikapi masalah ini memang diperlukan pemetaan karya sastra Indonesia yang bersumber dari cerita rakyat sehingga ada semacam pemisahan (klasifikasi) dari segi genre, media, dan hipogram yang dilanjutkan dengan penelitian lapangan agar diperoleh model tepat.
Berbagai upaya untuk memperbaiki sistem pengenalan dunia sastra kepada masyarakat, khususnya di lingkungan sekolah, yang salah satunya dikemukakan oleh Pak Sumiyadi memang sangat bermanfaat bagi keberlangsungan kesusastraan di Indonesia. Karena melalui kesusastraan akan tampak sejauh mana keanekaragaman budaya bangsa kita. Dengan kata lain, sastra mencerminkan kekayaan kebudayaan yang mengindikasikan maju tidaknya peradaban bangsa kita.
Yang jadi permasalahan adalah antusiasme masyarakat (termasuk siswa sekolah) terhadap sastra. Apakah dewasa ini sastra masih jadi salah satu sumber yang memberikan pelajaran tentang kehidupan? Karena pada kenyataannya hanya sebagian masyarakat saja yang masih setia jadi penikmat sastra. Terutama di masa kemajuan dunia pertelevisian seperti sekarang ini. Berbagai tayangan televisi di mana tidak semuanya baik untuk dilahap telah jadi idola di tengah-tengah masyarakat dan membuat kesusastraan cukup termarjinalisasikan. Oleh karena itulah diperlukan adanya penyegaran antusiasme terhadap sastra. Beruntung masih begitu banyak aktivis sastra, baik sastrawan, penyair, novelis, cerpenis, kritikus sastra, peneliti sastra, penggiat pagelaran sastra, komunitas penulisan sastra, dan penggiat sastra lainnya, yang secara sadar atau tidak telah sedikit demi sedikit membangkitkan kembali dunia sastra di Indonesia. Dan kelak tidak tertutup kemungkinan bahwa sastra akan jadi salah satu idola banyak masyarakat macam dunia selebritis sekarang ini.
Begitu pula halnya dengan sastra di kalangan siswa sekolah. Karena siswa adalah bagian dari masyarakat, maka gejala yang terjadi pun tidak jauh-jauh dari gejala masyarakat yang penulis kemukakan di atas. Saat ini begitu banyak hal yang eye catching di mata siswa yang membuat mereka mengesampingkan sastra. Padahal penyampaian materi sastra dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sangat bermanfaat dalam menerampilkan berbahasa, meningkatkan cipta dan rasa, menghaluskan watak, dan menambah pengalaman budaya siswa (Moody, 1971), hal ini juga disampaikan oleh Pak Sumiyadi. Sebagai bukti, lihat saja watak siswa zaman sekarang ini.
Dalam hal ini yang dibebani tugas adalah para pengajar. Merekalah yang dituntut untuk bisa menyegarkan antusiasme siswa terhadap sastra serta menumbuhkan ketertarikan dan kedekatan mereka tarhadap sastra (prosa dan puisi). Karena kedekatan siswa dengan sastra pun adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan dari berbagai penelitian pembelajaran sastra di sekolah yang dikemukakan di awal. Sehingga kelak sastra akan muncul sebagai sesuatu yang menarik untuk didekati oleh siswa dan umumnya oleh masyarakat.
Akhirnya, segala sesuatunya akan terlaksana apabila kita bisa mulai dari diri sendiri, minimal dengan membaca karya-karya sastra.***

No comments:

Post a Comment