16 November 2008

Manisnya Buah dari Kesabaran

Oleh Sigit Rais




Keajaiban memang selalu datang di luar dugaan. Ia datang bersama gemerlap pendar cinta Sang Maha Kuasa. Di atas bumi, jutaan orang menantikan datangnya keajaiban di tengah hiruk pikuk degup hidup yang terkadang terasa amat menyakitkan. Begitu juga denganku. Berkali-kali aku didera berbagai pelik hidup yang terkadang kurasa sulit untuk dilalui. Dan berkali-kali pula kurasakan keajaiban. Keajaiban itu kumaknai sebagai salah satu wujud cinta-Nya, cinta hakiki yang tak akan pernah mati. Cinta itu pun terpancar melalui ketulusan kasih sayang kedua orangtua yang selalu jadi cahaya penerang jalan hidupku.
Aku terlahir sebagai anak kedua dari rahim ibuku. Akan tetapi, tangan-tangan takdir telah memberiku kesempatan untuk berperan sebagai anak sulung yang menggantikan almarhum kakakku. Sebagai seorang anak, seperti juga anak-anak pada umumnya, sejak kecil aku dirawat oleh kedua orangtuaku dengan penuh cinta dan kasih sayang. Meski pun aku harus berbagi kasih sayang dengan kedua adikku yang tentunya lebih mendapat curahan perhatian, bagiku tidak masalah. Tak sedikit pun aku merasakan kekurangan kasih sayang karena orangtuaku memang pandai membagi-bagi kasih sayang. Hal ini justru menumbuhkan rasa kasih sayangku pada kedua adikku, bahkan beberapa sahabatku pun tak luput dari bidikan kasih sayangku. Ya, didikan orangtuaku yang dilimpahi cinta dan kasihsayang telah membuatku menjadi manusia penyayang.
Karena rasa kasih sayang itulah aku selalu ingin agar keluargaku selalu menemukan kebahagiaan. Tak sedikit pun terbesit keinginan dalam benakku untuk membuat mereka kecewa. Itulah yang menjadi salah satu motivasiku dalam menuntut ilmu. Sejak SD hingga Perguruan Tinggi aku selalu berusaha agar masuk sekolah negeri. Aku tidak ingin orangtuaku terbebani. Dan alhamdulillah aku selalu berhasil masuk ke sekolah negeri meski selalu jatuh pada pilihan kedua. Tak masalah. Bagiku ini adalah salah satu cara untuk meringankan beban mereka sebelum aku bisa hidup mandiri dan membantu mereka secara ekonomi. Satu hal yang selalu kucoba untuk kupegang teguh adalah ketaatan pada nasihat kedua orangtuaku. Aku yakin setiap nasihat yang mengalir dari mulut mereka selalu disertai cinta dan do’a untuk setiap jengkal langkah yang kutiti.
Aku masih ingat saat krisis ekonomi melanda bangsa Indonesia yang juga berimbas pada kehidupan keluargaku. Perekonomian keluargaku pun cukup terpuruk. Saat itulah berkali-kali kulihat langit menindih tubuh mereka yang harus berjuang untuk membesarkan aku dan adik-adikku. Tak terhitung tetes peluh dan air mata mereka. Aku tak tahan juga melihat beban dalam sorot wajah mereka. Akan tetapi, dari keterpurukan itulah kutemukan indahnya kebersamaan dalam sebuah keluarga. Kebersamaan yang harus dipertahankan meski badai menghadang jalan.
Aku masih ingat saat orangtuaku harus merelakan rumah yang telah mereka bangun bertahun-tahun jatuh ke tangan orang lain. Rumah itu mereka kontrakkan selama dua tahun. Sementara itu keluarga kami mengontrak di rumah yang lebih sederhana. Selama setahun kami tinggal di rumah susun yang ukurannya jauh lebih kecil dari rumah terdahulu. Berkali-kali aku mengeluh. Aku tak nyaman dengan keadaan itu. Akan tetapi, dengan penuh cinta dan kesabaran, orangtuaku, terutama ibuku, mencoba untuk merangsang kesabaran dalam diriku.
“Sabar, ini tak akan lama,” ujar ibu setiap kali aku mengeluh.
“Orang sabar insya Allah akan selalu diberi kebahagiaan,” ujarnya lagi.
Aku bertahan. Aku berjuang untuk menjadi anak yang sabar. Bahkan saat keluarga kami harus menyantap semangkuk bubur nasi encer karena beras telah habis dan tak ada bahan makanan lain. Aku pun bersabar saat pemilik rumah kontrakan kami mengusir kami secara halus sehingga dengan sangat terpaksa kami harus pindah ke rumah kontrakan lain. Ya, seperti kesabaran yang dimiliki ayah dan ibuku.
Setelah setahun kami tinggal di rumah susun itu kami pun menempati rumah baru. Rumah tersebut lebih besar dari rumah sebelumnya. Ukurannya hampir sama dengan rumah keluargaku. Hanya saja rumah tersebut tidak cukup baik dari rumah sebelumnya. Atap bocor, lantai semen yang kotor, dan kamar mandi yang sangat kotor bahkan tak lebih baik dari wc umum yang ada di terminal. Tapi alhamdulillah aku bisa bersabar. Tak hentinya ibuku memintaku untuk selalu berdo’a pada Sang Maha Kuasa agar aku kuat menghadapi cobaan ini. Agar aku yang mulai tumbuh terus melangkah di jalan yang lurus meski saat itu ayahku sempat terlihat putus asa. Aku paham. Ayah juga manusia biasa yang memiliki amarah dan hawa nafsu. Aku mengerti tentang rumit hidup yang melilitnya. Ia harus membiayai sekolahku dan adik-adikku, membiayai keperluan dapur, dan keperluan-keperluan lainnya. Aku mencoba untuk mengerti ayah meski ia sempat menendang mangkuk bekas mie instant yang baru saja disantapnya. Aku masih ingat saat adik pertamaku menangis ketakutan.
“Biar hanya ayah saja yang marah-marah seperti itu, kalian harus sabar,” ujar ibu padaku dan adik pertamaku yang juga mulai beranjak remaja.
Sementara itu cobaan terus datang bagai luapan aliran sungai di musim hujan. Bagai badai di tengah lautan yang menerjang kapal yang hampir karam. Tapi aku terus bersabar. Aku lebih berkonsentrasi pada sekolahku. Alhamdulillah di tengah-tengah cobaan tersebut aku bisa meningkatkan prestasi akademikku. Entah kenapa aku sendiri pun heran saat menyadari bahwa semangat belajarku justru meningkat, meluap-luap. Mungkinkah karena rasa khawatir akan gagal masuk SMA negeri jika nilai akhirku kurang baik? Entahlah. Yang jelas aku hanya ingin melaksanakan apa yang dinasihatkan oleh orangtuaku, dan tentunya aku pun tak ingin membuat mereka semakin terbebani jika aku masuk sekolah swasta yang rata-rata memerlukan biaya lebih mahal.
Di rumah kontrakan itu adik bungsuku pun tak luput dari bidik cobaan. Di rumah itu adikku mendadak sering sakit-sakitan. Saat suhu tubuhnya tinggi adikku selalu menangis menjerit-jerit sambil menunjuk salah satu sudut rumah.
“Berdo’alah,” pinta ibu sambil menggendong adikku dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an.
Demikianlah kehidupan keluargaku di rumah baru. Selalu dipenuhi dengan cobaan. Akan tetapi, lagi-lagi pelik hidup mendorongku untuk bersabar. Ya, aku selalu menuruti nasihat orangtuaku untuk terus bersabar. Bahkan saat kami diusir untuk yang kedua kalinya karena ayahku tak sanggup membayar biaya kontrakan bulanan. Tak hentinya aku bersabar dan berdo’a hingga pada akhirnya Allah menunjukkan jalan terang-Nya. Kakek dan nenekku mengajak tinggal bersama untuk sementara sampai masa kontrak rumah kami selesai. Selama lima bulan keluargaku tinggal di rumah kakek dan nenek. Di rumah itulah kulalui ujian akhir SMP. Alhamdulillah, aku berhasil masuk ke sekolah negeri seperti cita-citaku. Ya, aku berhasil bisa turut membantu meringankan beban orangtuaku, terutama ayah yang menjadi tulang punggung keluarga. Dan syukurlah saat kami tinggal di rumah kakek dan nenek ayah sudah bisa mengendalikan emosinya. Ia tak lagi jadi pemarah. Badai mungkin sudah reda.
Akhirnya lima bulan berlalu dengan cepat. Kami pun kembali ke rumah yang kami rindukan. Badai sedikit reda. Keluargaku bagai memulai kehidupan baru. Benar-benar dari nol. Harta benda yang sejak dulu dikumpulkan ayah dari hasil kerja kerasnya telah habis. Rumah kami kosong dan sunyi. Berbulan-bulan aku tidak menyaksikan tayangan televisi. Bahkan radio tape yang ayah beli dari salah seorang pamanku pun rusak dan harus diperbaiki. Akan tetapi, tak hentinya orangtuaku memintaku untuk bersabar. Mereka bilang dunia ini bagai roda. Terus berputar. Kita tidak mungkin ada di atas selamanya. Kadang di atas, kadang di bawah. Begitulah roda kehidupan. Seseorang yang bisa bersabar dalam menyikapi berbagai keadaan insya Allah akan mendapatkan kebahagiaan lahir batin, kebahagiaan dunia dan akhirat. Jangan sampai keterpurukan hidup menjerumuskan kita sehingga jauh dari Sang Penaung. Karena segala hal yang terjadi dalam hidup kita telah jadi ketentuan-Nya.
Demikianlah, aku tumbuh menjadi seseorang yang selalu berlapang dada. Aku selalu berbesar hati. Aku selalu ingat pada nasihat orangtuaku, yaitu agar aku selalu bersabar, baik saat berada dalam kesenangan maupun saat aku berada dalam kesusahan. Dengan bersabar, kita akan bisa mengendalikan hawa nafsu dan berpikir jernih. Sehingga batin kita akan selalu tenang meski kita berhadapan dengan badai kehidupan. Dan akhirnya, berangsur-angsur perekonomian keluargaku pun membaik. Mungkin inilah yang dinamakan dengan buah manis dari kesabaran.
Berbagai peristiwa yang kualami saat aku masih remaja ternyata telah membimbingku untuk menjadi seseorang yang sederhana dan hemat dalam memanfaatkan uang. Setiap kali aku memegang uang dan akan menggunakannya , hal yang paling kuingat adalah bagaimana perihnya kedua orangtuaku dalam membesarkanku dan adik-adikku. Akhirnya aku mulai bisa paham mengapa Allah memberikan cobaan pada keluarga kami. Seandainya hidupku selalu berada dalam kesenangan mungkin aku akan tumbuh menjadi seseorang yang boros, bahkan mungkin aku tak akan pernah bisa mengerti bagaimana perjuangan kedua orangtuaku dalam membesarkan aku. Aku pun tak akan pernah mengenal tentang keutamaan bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan.
Akan tetapi sebagai seorang remaja sempat kurasakan sesuatu yang berubah dalam diriku. Saat SMA berkali-kali kurasakan ketidaksetujuan pada setiap keputusan orangtuaku termasuk pada nasihat-nasihat yang mereka berikan. Tapi aku selalu berusaha untuk menahan diri. Selalu kutanamkan dalam diri bahwa apa yang mereka nasihatkan padaku adalah semata-mata untuk kebaikanku. Meski terkadang aku merasa tak bersepakat dengan mereka, aku selalu berusaha untuk selalu melangkah di jalan yang benar. Ya, meski aku sudah mulai belajar untuk menentukan pilihanku, nasihat mereka tak pernah kuabaikan meski harus kucerna terlebih dahulu. Hal tersebut berlangsung hingga aku duduk di perguruan tinggi.

***



Saat aku menginjak batas akhir perkuliahan aku merasakan kegelisahan luar biasa, terutama saat aku berhadapan dengan tugas akhirku, yaitu skripsi. Selama berbulan-bulan kuabaikan tugas itu hanya karena aku merasa belum siap. Skripsi terasa bagai mimpi buruk yang merusak ketenangan batinku. Ditambah lagi ucapan ayah dan ibuku yang dibumbui keinginan dan harapan agar aku bisa lulus tahun ini. Benar-benar dilematis. Di satu sisi aku merasa belum sanggup untuk menuntaskan kuliahku. Akan tetapi, di sisi lain aku pun tak ingin mengecewakan kedua orangtuaku. Lagi pula bukankah sejak kecil, saat melihat salah satu tetanggaku lulus kuliah dan mengikuti acara wisuda, aku berjanji dalam diriku bahwa aku pun bisa seperti dia. Terutama saat kulihat pijaran kebahagiaan pada wajah orangtuanya, muncul keinginan dalam diriku untuk membahagiakan kedua orangtuaku.
Usiaku 22, mungkin aku sudah cukup untuk mendapatkan gelar sarjana. Akan tetapi, lagi-lagi berbagai pikiran kacau meredupkan semangatku. Aku begitu pesimis. Aku merasa tidak siap untuk menjadi seorang sarjana. Aku merasa tidak sanggup untuk menyelesaikan skripsi. Sementara itu, waktuku semakin sempit. Lagi pula setelah aku jadi sarjana aku merasa tak bisa apa-apa. Aku merasa buta, bahkan aku lupa pada prestasi-prestasiku yang sejak dulu seringkali membuat orangtuaku bangga. Aku sendiri tak tahu apa yang menyebabkan aku merasa tidak berguna.
Kegelisahanku memuncak saat hari-hari terakhir pengumpulan skripsi. Aku berhadapan dengan berbagai kendala, pertama aku belum memiliki biaya untuk ujian sidang. Uang pemberian ayahku tidak cukup. Ingin sekali aku meminta lagi padanya, tapi aku ragu karena beberapa hari sebelumnya adik bungsuku memerlukan dana yang tidak sedikit untuk membayar uang pangkal SMP. Kendala lainnya adalah skripsiku belum selesai. Pembimbingku belum memberiku izin untuk maju ke ujian sidang. Ternyata aku memang tak sanggup. Ujian sidang pun dilaksanakan meski tanpa kehadiranku sebagai salah satu pesertanya. Miris rasanya hati ini melihat beberapa kawan seperjuanganku yang telah maju sidang terlebih dahulu. Tetapi lagi-lagi teduh lisan ibuku menumbuhkan motivasi yang terkubur oleh keraguanku. Nasihatnya lagi-lagi membuatku bertahan sehingga bisa mencoba untuk berdiri.
“Sabar, jangan putus asa, tetap optimis, terus berikhtiar dan berdo’a,” ujarnya.
Ayahku pun tak hentinya mengingatkan aku agar aku selalu mengingat Allah. Ayah menasihatiku agar aku makin rajin beribadah dan berdo’a. Ia pun meminta agar aku rajin mengerjakan sholat malam. Awalnya aku sempat ragu dan pesimis. Tapi akhirnya setelah kuturuti nasihat ayah, batinku terasa lebih lega. Skripsi tak lagi kulihat sebagai mimpi buruk, tetapi sebagai pekerjaan yang harus segera kutuntaskan. Lagi pula aku tidak sendiri, masih banyak kawan seperjuanganku yang juga belum menuntaskan skripsinya. Lalu kenapa di hari-hari sebelumnya aku merasa sendiri? Entahlah.
Kemudian pada suatu hari, salah seorang kawanku membawa kabar yang sangat menggembirakan. Ternyata satu bulan setelah ujian sidang yang baru saja selesai deilaksanakan akan dilaksanakan ujian sidang gelombang ke-2. Aku bagai bunga yang bangkit dari layu. Semangatku kembali menyala. Kini aku tinggal mencari dana untuk membayar biaya sidang. Aku tak ingin menyusahkan ayahku.
Syukurlah, dalam waktu yang hampir bersamaan, ternyata 2 cerpen karyaku dimuat di dua majalah remaja. Alhamdulillah, aku bisa membayar biaya sidang dan membeli berbagai keperluanku. Aku pun maju sidang dengan dinaungi do’a kedua orangtuaku. Bahkan sehari sebelum pelaksanaan sidang ayah membelikan aku sebuah kemeja untuk dipakai saat ujian sidang. Kemeja itu pun kupakai dengan rasa bahagia. Sidang pun berlalu bagai sehelai angin yang tak mungkin kembali. Aku benar-benar merasa lega. Salah seorang dosen penguji yang awalnya kukira akan ‘membantai’ skripsiku ternyata secara terang-terangan menyatakan bahwa beliau senang dengan skripsi karyaku. Padahal saat masa-masa kuliah dulu aku selalu saja salah di matanya. Bahkan nilai mata kuliahku yang didoseni olehnya pun kebanyakan mendapat nilai C. Alhamdulillah, Allah telah mebukakan jalan-Nya bagiku untuk bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan rasa lega pada kedua orangtuaku. Mereka berhasil memberiku pendidikan layak meski keluarga kami seringkali diterpa badai kehidupan. Mereka pun telah menanamkan sikap sabar dalam diriku sehingga berkali-kali bisa kunikmati buah manis dari kesabaran itu.
Akhirnya aku sadar bahwa dengan taat pada nasihat orangtuaku, yaitu untuk selalu bersabar dalam berkhtiar, tidak boleh pesimis dan berputus asa, serta selalu mendekatkan diri pada Allah, insya Allah keajaiban akan datang. Keajaiban tersebut adalah salah satu wujud cinta dari Allah Yang Maha Kuasa.
Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah menunjukkan bagaimana manisnya buah dari kesabaran. Terima kasih karena telah membuatku merasa menjadi salah satu anak yang paling beruntung di dunia karena memiliki orangtua terbaik seperti kedua orangtuaku. Ya Allah, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku saat aku masih kecil. Amin.***

3 comments:

  1. Some says life is a mystery...
    I say, life is god secret...

    Terkadang, sabar merupakan senjata jitu menghadapi hidup. Bagi sebagaian lain perbuatan adalah hal yang utama. Dan kawan kita ini, menggabungkan sabar dan ikhtiar dengan baik.

    Sabar...bukan berarti diam bukan..

    ReplyDelete
  2. Hooo, indahnya tulisanmu Git... terima kasih udah ngasih pencerahan ke aku yang agak boros dalam pengeluaran (duit, terutama)..
    semoga aku juga bisa belajar bersabar dalam menjalani hidupku...

    ReplyDelete
  3. @pa um" :)

    @Langitkotabandung: hehe.. amin. :)

    ReplyDelete